Refleksi “Amanat” Panglima Besar Jenderal Soedirman bagi Generasi Muda TNI

Selama perjalanan sejarahnya, bangsa Indonesia telah menghadapi berbagai gejolak, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dalam kondisi penuh gejolak tersebut, TNI tetap setia mengawal Indonesia menuju Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Keberhasilan TNI dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan RI ini tidak terlepas dari pengaruh sosok tokoh TNI yang juga pahlawan nasional, Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman.

Soedirman memiliki sifat-sifat yang dapat menjadi teladan seperti taat, disiplin, hormat, sopan santun, cinta tanah air, dan sederhana. Sifat-sifat teladan Soedirman ini terefleksi dalam setiap kalimat-kalimat yang diucapkannya, baik dalam amanatnya maupun kata-kata singkatnya, semuanya terekam dalam ingatan kolektif segenap prajurit TNI, yang tidak berbatas oleh ruang dan waktu.

Soedirman yang lahir pada hari Senin tanggal 24 Januari 1916 di dukuh Rembang, Purbalingga adalah sosok pejuang yang sangat erat mempengaruhi dan mewarnai jalannya sejarah lahir dan berkembangnya TNI. Jenderal sederhana, yang teguh pendirian itu memang telah lama meninggal dunia. Namun kepergiannya pada tanggal 29 Januari 1950, telah meninggalkan muatan makna yang berharga bagi kelangsungan perjalanan TNI. Muatan makna ini tercermin, tidak hanya dalam sikap dan tindakannya, tetapi juga dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Fakta sejarah membuktikan bahwa sampai saat ini, perkataan Soedirman tetap memiliki  pengaruh signifikan bagi TNI.

Pada era yang ditandai oleh derasnya arus perkembangan teknologi informasi, dimana dunia dipandang sebagai desa global yang berbaur tanpa sekat, TNI harus memiliki komitmen yang kuat sebagai salah satu komponen bangsa dalam menjamin eksistensi NKRI. Karena jika tidak, maka seluruh kekuatan nasional, tidak terkecuali TNI akan kehilangan kekuatan dan kehormatan apabila tidak mampu mengatasi berbagai gejala penyimpangan yang disebabkan oleh adanya ancaman, baik internal maupun eksternal. Sebagai negara yang besar dengan jumlah penduduknya yang majemuk dan beragam, Indonesia sangat potensial rentan terhadap gejala desintegrasi bangsa. Sehingga untuk mempertahankannya diperlukan lembaga militer yang kuat, dan itu adalah TNI.

Faktor penting yang merupakan akar kekuatan TNI adalah karena lembaga ini memiliki integritas yang tinggi demi kepentingan bangsa dan negara. Hal utama yang menjadi sebab, mengapa TNI memiliki integritas tinggi, salah satunya karena pengaruh sosok pribadi Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman. Banyak digambarkan pengaruh yang kuat dari sosok Soedirman adalah tindakan heroiknya saat pertempuran. Namun penggambaran ini tidak sepenuhnya demikian, karena ucapan atau kata-kata Pangsar Soedirman pun menjadi cermin mengapa TNI begitu solid dan militan. Banyak kalimat, baik dalam pidato maupun amanat yang disampaikan Soedirman menjadi unsur penguat spirit mentalitas prajurit TNI. Khususnya, bagi prajurit TNI yang lahir jauh setelah era Soedirman. Rentang jarak generasi, pada kenyataannya tidak menyulitkan bangunan komunikasi antara Soedirman dan generasi berikutnya. Perkataan Soedirman hingga kini masih menjadi unsur penghubung komunikasi antar generasi tersebut. Sehingga kepribadian dan jiwa Soedirman tetap tertanam dan mengakar dalam setiap sanubari prajurit TNI.

Sebagai garda terdepan alat pertahanan negara, TNI memiliki tugas pokok menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa, TNI lah merupakan salah satu komponen bangsa yang berfungsi sebagai alat integrasi nasional atau lembaga pemersatu bangsa. Fungsi pemersatu ini yang menjadikan TNI sebagai institusi negara yang netral, dan tidak memihak. Salah satu kalimat Soedirman yang mencerminkan persatuan dan memiliki fungsi pertahanan negara tersebut adalah:

Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagipula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga. Pidato yang diucapkan Soedirman saat diangkat sebagai Panglima Besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945. Dan, “Jagalah persatuan di dalam tentara, sehingga tentara kita dapat menjadi utuh, satu dan merupakan benteng yang kokoh kuat dalam menghadapi siapa pun. Merupakan amanat yang diucapkan Pangsar Soedirman kepada para Komandan Kesatuan tanggal 1 Mei 1949.             Satu hal yang menjadi sebab mengapa kalimat demi kalimat Soedirman tetap terimplementasi relevansinya hingga kini. Karena TNI dan generasi muda nya memiliki komitmen untuk menjalankan pesan-pesan Soedirman. Dimanapun bertugas dan berada, prajurit TNI tetap memegang teguh lima sifat karakter yang menjadi tuntunan dalam hidup dan kepribadian Soedirman, yaitu: pertama, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; kedua, mempunyai keunggulan moral; ketiga, mempunyai sifat pantang menyerah; keempat, rela berkorban dan kelima, selalu mencintai rakyatnya.       Di tengah lingkungan dunia yang serba berubah dengan intensitas ancaman yang semakin mengglobal, kalimat Soedirman dapat menjadi sumber inspirasi, sumber motivasi, sumber integrasi, dan sumber energi bagi TNI sehingga dapat mewujudkan TNI yang kuat, terhormat, dan profesional, serta dicintai rakyat. Dengan merenungkan dan merefleksikan pesan-pesan Soedirman, TNI tetap setia kepada jati dirinya sebagai salah satu kekuatan kebangsaan Indonesia, di luar itu, TNI dapat menempatkan posisinya sebagai benteng keamanan nasional dalam menghadapi situasi perubahan zaman yang terus berubah secara cepat. Sehingga ekspektasinya, TNI tetap menjadi garda pertahanan terdepan bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.