Mengenang Sosok Pahlawan Nasional Brigadir Jenderal TNI Anumerta Ignatius Slamet Rijadi (1926-1950) (bagian-2)

Mayor Jenderal F. Mollinger dari pihak Belanda menyalami komandan pasukan TNI di sebagian wilayah Jawa Tengah Slamet Riyadi dalam acara serah terima kota Solo, Pacitan, dan sebagian wilayah pantai selatan dari kekuasaan Belanda ke Republik Indonesia pada tanggal 12 November 1949 di Stadion Solo.

Slamet Rijadi dalam serangan umum di kota Solo

Selain melakukan serangan terhadap kota Yogyakarta, TNI juga melancarkan serangan umumnya terhadap kota Solo. Serangan itu dilancarkan menjelang diberlakukannya perintah penghentian tembak menembak antara RI dan Belanda yang tercapai pada tanggal 3 Agustus 1949, dan pelaksanaan cease fire yang harus sudah berlaku pada tanggal 11 Agustus 1949. Tujuan utama serangan itu ialah untuk mencapai kedudukan yang baik sebelum gencatan senjata berlaku. Disamping itu, serangan umum terhadap kota Solo juga bertujuan untuk menunjukkan kepada musuh bahwasannya para gerilyawan bukan saja pandai di dalam mentrapkan aksi-aksi gerilya dengan prinsip menyerang dan segera menghilang kemudian menjadi satu dengan rakyat, namun juga mampu mengadakan serangan frontal dan liniar untuk menduduki suatu daerah tertentu, dan berani menghadapi gempuran musuh yang menggunakan pasukan kavaleri dan serangan senjata berat.

Serangan umum terhadap kota Solo dilakukan dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama dari tanggal 7 sampai dengan 9 Agustus 1949, dan gelombang kedua pada tanggal 10 Agustus 1949. Serangan ini dilakukan sesuai perintah Letnan Kolonel Slamet Rijadi, selaku Komandan Wehkreise I sekaligus pimpinan Komando Pertempuran Panembahan Senopati/Brigade V Divisi II. Serangan kemudian dipimpin sendiri olehnya. Dengan kecakapan yang dimilikinya, Letnan Kolonel  Slamet Rijadi memerintahkan pasukannya untuk mengepung Solo dari empat jurusan. Sejak pagi buta para gerilyawan dengan beragam persenjataan yang dimiliki telah menyusup ke dalam kota dan menyebar. Serangan yang dilancarkan tanggal 7 Agustus 1949 cukup mengagetkan pasukan Belanda, karena setelah itu Belanda mengerahkan kekuatannya baik di udara maupun persenjataan daratnya untuk membalas serangan.

Pertempuran di kota Solo berlangsung selama 4 hari 4 malam dan mencapai puncaknya pada tanggal 10 Agustus 1949, saat dilaksanakan serangan gelombang kedua. Serangan tersebut merupakan serangan perpisahan dan dilakukan secara besar-besaran. Serangan ini tidak dimaksudkan untuk merebut kota, akan tetapi semata-mata untuk memberikan kesan kepada musuh, bahwa TNI masih tetap kuat. Taktik yang digunakan ialah gerilya dengan cara penghadangan, penyergapan malam dan sabotase, dan senjata yang dipergunakan hanyalah senjata ringan. Sekalipun pihak Belanda mempergunakan semua kekuatan yang ada untuk menguasai keadaan, namun inisiatif tetap dipegang oleh satuan-satuan TNI. Belanda semakin terdesak dan separuh kota berada di tangan TNI. Pasukan-pasukan Belanda hanya tinggal di dalam tangsi-tangsi, sedangkan di luar mereka tidak berdaya sama sekali. Pada akhirnya pasukan-pasukan TNI menghentikan semua kegiatan militernya dan mentaati perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Demikian juga pihak Belanda. Pertempuran di kota Solo ditutup dengan diserahkannya komando kota Solo oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi kepada Mayor Achmadi, dan selanjutnya diadakan perundingan dengan pihak Belanda dibawah United Nations Commission for Indonesia (UNCI) dalam rangka serah terima kota Solo. Dengan demikian prakarsanya dalam menggerakkan gerilyawan Solo telah mampu mengembangkan prinsip-prinsip gerilya modern, yaitu menyatupadukan tentara dan rakyat. Disamping itu, Letnan Kolonel Slamet Rijadi juga mampu memobilisasikan potensi rakyat sebagai tenaga tempur serta mahir membuat seluruh pasukannya menjadi tenaga tempur yang militan. Sehingga sukar jejaknya diikuti apalagi ditemukan oleh pasukan Belanda. Letnan Kolonel Slamet Rijadi adalah seorang perencana dan pengatur siasat serta strategi militer yang handal dalam menghadapi pasukan Belanda, khususnya melalui serangan umumnya di kota Solo.

Slamet Rijadi dalam Operasi Penumpasan RMS di kota Ambon

Tidak hanya pada masa perang kemerdekaan Letnan Kolonel Slamet Rijadi mengambil peran, tetapi pada masa pasca kemerdekaanpun, kepemimpinan Slamet Rijadi begitu menonjol melalui serangkaian penumpasan bom waktu yang ditinggalkan Belanda. Pada awal Januari 1950, Kapten Raymond Westerling membentuk gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung. Gerakan ini kemudian melakukan kegiatan pengacauan pada tanggal 23 Januari 1950. Untuk membantu memadamkan gerakan APRA,  Letnan Kolonel Slamet Rijadi mengirimkan anak buahnya sebagai pasukan bantuan dari Jawa Tengah dengan inti pasukan dari Batalyon 352 (Bn Suradji). Adanya tambahan pasukan bantuan ini, mempercepat jatuhnya gerakan APRA di Bandung. Selain membantu memadamkan gerakan APRA, Letnan Kolonel  Slamet Rijadi juga dikirim untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Pulau Ambon.

Pada tanggal 24 April 1950 Belanda memainkan peranan kembali dalam episode akhir jajahannya di Indonesia dengan memproklamirkan apa yang dinamakan RMS lepas dari Negara Indonesia Timur dan RIS dibawah pimpinan Dr. C.R.S Soumokil. Setelah pelbagai usaha menyelesaikan masalah RMS secara damai melalui misi persaudaraan yang dipimpin oleh Dr. J. Leimena menemui kegagalan, dan demi keamanan nasional, maka disusunlah gerakan operasi militer dalam suatu komando yang diberi nama Komando Pasukan Maluku Selatan (Kopas Masel) untuk menumpas gerakan RMS ini. Komando Pasukan Maluku Selatan dipimpin oleh Panglima Komando Tentara Territorium Indonesia Timur Kolonel Alex E. Kawilarang, dengan komandan operasinya Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Keputusan untuk menunjuk Kawilarang selaku panglima dan Slamet Rijadi sebagai komandan untuk memimpin operasi militer guna menumpas pembangkangan RMS merupakan perpaduan yang menarik. Alex Kawilarang, seorang keturunan Minahasa, sedangkan Slamet Rijadi seorang putera asli Solo. Namun keduanya mampu bekerjasama dalam menghadapi gerombolan RMS di Ambon, Maluku. Ketika keputusan untuk membentuk pasukan Kopas Masel keluar, merekapun masih bertugas di daerah yang berbeda, Kawilarang selaku Panglima Territorium Indonesia Timur tengah berada di Makassar, sementara Slamet Rijadi bersama anak buahnya sedang melakukan operasi untuk menumpas gerombolan DI/TII di Jawa Barat. Letnan Kolonel Slamet Rijadi sendiri berangkat bersama pasukannya batalyon 352 pada tanggal 10 Juli 1950 ke Ambon dengan menaiki kapal Waikelo. Kemudian mereka menggabungkan diri dengan induk pasukannya yang telah berangkat lebih dahulu. Sebelum berangkat, Slamet Rijadi sempat meresmikan nama baptisnya selaku seorang Katolik dengan nama Ignatius. Ia dimandikan di Gereja Room Katolik Purbayan Solo pada akhir tahun 1949. Nama lengkap Ignatius Slamet Rijadi ini dikenal sampai dengan sekarang. Pada tanggal 12 Juli 1950, Letnan Kolonel Slamet Rijadi dan pasukannya tiba di lapangan udara Mandai, Makassar. Untuk selanjutnya, mereka meneruskan perjalanannya untuk sampai ke Pulau Ambon.

Pusat gerakan RMS terletak di Pulau Ambon, suatu pulau yang sangat baik untuk pertahanan. Pulau ini mudah dipertahankan dan sangat sulit untuk diserang secara konvensional. Sehingga untuk menaklukkan gerakan RMS tersebut diperlukan suatu operasi militer gabungan yang meliputi semua angkatan, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara. Setelah persiapan-persiapan yang dilakukan sebelumnya pada tanggal 28 September 1950 pasukan TNI berhasil mendarat di Pulau Ambon. Gerakan operasi pendaratan di Pulau Ambon diberi nama serangan umum Senopati. Tujuan dari serangan umum Senopati ialah untuk menghancurkan pusat pemberontakan RMS di Pulau Ambon dan membebaskan rakyat dari kelaparan dan penindasan RMS serta untuk menguasai pulau itu seterusnya. Operasi Senopati ini terbagi menjadi dua phase yaitu gerakan operasi Senopati phase I dimulai dari tanggal 28 September sampai dengan 2 November 1950 dan phase II dimulai dari tanggal 3 November 1950 sampai dikuasainya seluruh Pulau Ambon. Pasukan pendarat dipecah menjadi tiga grup. Grup I dipimpin oleh Mayor Achmad Wiranatakusumah, grup II dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi dan grup III dipimpin oleh Mayor Surjo Subandrio. Pendaratan ini dibantu oleh beberapa kapal perang ALRI dan satu skadron pesawat bomber milik AURI. Dalam waktu beberapa hari, pasukan TNI dapat menguasai sebagian besar Pulau Ambon, kecuali di bagian selatan di tempat RMS memusatkan kekuatannya. Pada tanggal 3 November 1950, pasukan grup Letnan Kolonel Slamet Rijadi dan grup Mayor Surjo Subandrio bergerak bersama-sama untuk menyergap pertahanan RMS di Waitatiri. Gerakan yang mereka lakukan masuk dalam phase II operasi Senopati.

Namun pada saat yang bersamaan, Komandan RMS juga merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap pos pertahanan TNI untuk mematahkan kepungan. Sehingga terjadilah pertempuran sengit antara pasukan RMS yang berintikan pasukan Baret Hijau dan Baret Merah (eks Koninklijk Luchtmacht, Angkatan Udara kerajaan Belanda) dengan pasukan TNI. Dengan senjata beratnya, TNI berhasil menghancurkan markas dan membakar panser lawan, meskipun pasukan lawan juga telah mampu dalam suatu kesempatan mengacaukan dan mencerai-beraikan pertahanan pihak Republik.

Disamping penyergapan kedua grup pasukan pimpinan Letnan Kolonel  Slamet Rijadi dan Mayor Surjo Subandrio, pasukan grup pimpinan Mayor Achmad Wiranatakusumah yang belum mendarat, didaratkan di Benteng  Victoria di punggung kota Ambon dengan tujuan merebut kota Ambon. Dalam pertempuran beberapa jam di Waitatiri, pasukan RMS dapat dipukul mundur. Dua ribu orang sisa pasukannya bersenjatakan sten dan bregun serta empat buah panser kemudian bergerak menuju kota Ambon untuk kembali bertahan. Pasukan Achmad Wiranatakusumah yang didaratkan pagi hari, pada sore harinya dapat menguasai keadaan. Namun karena kelelahan, pada akhirnya pasukan TNI kurang waspada. Kondisi ini dimanfaatkan pasukan RMS untuk menyamar sebagai TNI dan membawa bendera merah putih. Mereka mulai menyerang pasukan TNI. Suasana menjadi kacau dan sulit membedakan mana kawan dan lawan. Akibatnya sepanjang malam terjadi pertempuran diantara keduanya. Perkelahian seorang lawan seorang tidak terhindarkan lagi terjadi sampai menjelang pagi hari dan menimbulkan banyak korban. Melihat kondisi demikian maka esok paginya pada tanggal 4 November 1950 pasukan Letnan Kolonel Slamet Rijadi bergerak memasuki kota Ambon. Ia menilai kekacauan yang terjadi akibat taktik dan teknik pihak lawan yang telah bisa memanfaatkan kondisi lelah pasukan TNI. Sehingga ia mengambil inisiatif untuk memimpin sendiri pasukannya. Dengan menaiki panser, Slamet Rijadi memimpin barisan paling depan. Namun tidak dapat dihindari, dalam suatu operasi di depan benteng kuno “Niew Victoria”, Letnan Kolonel Slamet Rijadi tertembak. Rentetan tembakan yang telah mengenainya terjadi saat ia turun dari panser dan memberikan aba-aba kepada anak buahnya pada pertempuran seru di depan pintu gerbang benteng Niew Victoria tersebut.  Walaupun usaha pertolongan telah diberikan, namun pada pukul 21.15 tanggal 4 November 1950 Letnan Kolonel Slamet Rijadi gugur. Dalam hembusan nafas terakhirnya, ia tetap menyerukan semangat kepada anak buahnya dengan kalimat “Mari, mari, kita terus masuk benteng ! Mari, mari, maju…….”Dan suaranya semakin tidak terdengar, akibat luka parah yang dideritanya. Sambil terus meraba perutnya yang terus mengeluarkan darah, Letnan Kolonel Slamet Rijadi gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa dalam usia yang masih sangat muda 24 tahun. Sampai akhir hayatnya, Letnan Kolonel Slamet Rijadi tidak pernah menyerah pada lawan meskipun nyawa sebagai taruhannya. Kota Ambon sendiri berhasil direbut TNI setelah tokoh-tokoh RMS satu persatu menyerah dan gembong RMS, Dr. Soumokil tertangkap di Pulau Seram. Tertangkapnya Dr. Soumokil mengakhiri petualangan gerakan RMS di Pulau Ambon.

Letnan Kolonel Slamet Rijadi dimakamkan dengan upacara militer sederhana pada sebuah makam darurat di tengah kebun kelapa Pantai Tulehu, Pulau Ambon bagian timur pada tanggal 5 November 1950. Barulah setelah kondisi keamanan di Ambon dan Maluku pulih, makam Slamet Rijadi dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Ambon. Sesuai keinginannya, ia ingin dimakamkan diatas tanah dimana ia gugur.

Slamet Rijadi Penggagas terbentuknya pasukan para komando

Letnan Kolonel Slamet Rijadi tidak hanya cakap di bidang taktik militer, namun dialah juga seorang pencetus gagasan berdirinya kesatuan komando. Gagasannya ini muncul saat penugasannya ke Ambon dalam rangka penumpasan gerakan RMS. Kesulitan yang dihadapi pasukan Indonesia yang tergabung dalam operasi Senopati memunculkan gagasan bagi Letnan Kolonel  Slamet Rijadi tentang perlunya satu satuan pemukul yang tangguh dan dapat diandalkan untuk menghadapi segala keadaan, tempat dan sasaran pada waktu yang tepat. Pada saat itu pasukan TNI dibawah Komando Letnan Kolonel Slamet Rijadi menghadapi kesulitan dalam menghadapi pemberontak yang diperkuat oleh dua kompi pasukan khusus Belanda Korps Speciale Troepen (KST), yang mempunyai kemampuan-kemampuan tempur dalam gerakannya. Penggunaan pasukan bekas KST oleh pasukan pemberontak, terutama sebagai penembak tepat, cukup merepotkan gerak maju pasukan TNI dan bahkan menimbulkan korban yang cukup besar di pihak TNI.

Pembentukan pasukan komando yang digagasnya ini tidak hanya mengenai soal-soal pasukannya saja, tetapi juga mengenai penugasan maupun pendidikannya. Mengingat Indonesia memiliki sifat-sifat geografis tertentu, maka Slamet Rijadi merasa perlu membentuk pasukan Para Komando di dalam TNI ini. Pasukan para komando yang akan dibentuk haruslah satuan-satuan tempur yang dapat diandalkan, dalam arti mampu berdiri sendiri dalam menghadapi lawan dan mampu dihadapkan pada medan yang bagaimana pun beratnya. Sehingga diharapkan penggunaan pasukan ini dapat diperuntukkan untuk mencapai kemenangan di dalam pertempuran dan sekaligus menghindari jatuhnya banyak korban. Gagasannya ini kemudian didiskusikannya dengan pimpinan operasi Senopati Kolonel A.E. Kawilarang yang menyambut baik idenya.

Gagasan tersebut hendak diwujudkan Slamet Rijadi saat tugas operasinya di Ambon selesai. Namun niat itu tidak sempat terealisasi, karena ia lebih dahulu gugur dalam suatu pertempuran di benteng Niew Victoria, Ambon. Meskipun tidak sempat mewujudkan gagasannya, Letnan Kolonel Slamet Rijadi telah memberikan pijakan/dasar bagi berdirinya pasukan para komando. Ide ini kemudian diteruskan oleh Kolonel A.E. Kawilarang saat ia menjabat sebagai Panglima Tentara Territorium III (sekarang Kodam III/Siliwangi). Kolonel A.E. Kawilarang menilai perlu mewujudkan ide Letnan Kolonel Slamet Rijadi untuk memiliki suatu pasukan istimewa. Terlebih saat menghadapi pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri. Gagasan tersebut kemudian diwujudnyatakan dengan merintis jalan kearah dasar-dasar pembentukan pasukan khsusus yang kemudian dinamakan kesatuan komando. Pasukan inilah yang kelak menjadi inti cikal bakal terbentuknya pasukan elit Angkatan Darat yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ide Slamet Rijadi untuk membentuk pasukan para komando baru terwujud pada tanggal 16 April 1952. Dua tahun setelah kematiannya. Dengan demikian gagasan besarnya untuk membentuk pasukan para komando tidak berarti sirna bersama dengan kematiannya, bahkan Letnan Kolonel Slamet Rijadi telah memberikan pemikiran besarnya bagi kemajuan TNI dan bangsa Indonesia. Letnan Kolonel Slamet Rijadi telah pergi memenuhi panggilan sejarahnya. Ia dengan teguh berpijak pada garis revolusi bangsanya sampai akhir hayatnya. Dan sebagai penghargaan atas jasa-jasa Letnan Kolonel Slamet Rijadi dalam menyumbangkan jiwa raga terhadap nusa dan bangsanya, ia telah dinaikkan pangkatnya secara luar biasa dua tingkat lebih tinggi menjadi brigadir jenderal anumerta. Untuk mengenang nama besarnya, beberapa fasilitas sarana umum khususnya di kota Solo mengabadikan nama Letnan Kolonel Slamet Rijadi sebagai nama jalan, monumen dan universitas. Monumen Ignatius Slamet Rijadi berbentuk patung setinggi 12 meter, diresmikan oleh KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso pada tanggal 12 November 2007 di kota kelahirannya Solo, Jawa Tengah.

Yayo Kemuseum, ayo belajar sejarah !!!

No history, no fufure

Genta Bangsa ….Yes….Yes….Yes….

Sumber Foto: http://indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com