Mengenang Sosok Pahlawan Nasional Brigadir Jenderal TNI Anumerta Ignatius Slamet Rijadi (1926-1950) (bagian 1)

Pada awal bulan November 2007 tahun lalu, TNI menambah deretan tokohnya yang mendapat anugerah gelar pahlawan nasional. Dialah Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi. Mengapa Slamet Rijadi memperoleh gelar tersebut. Ada beberapa kriteria yang mengisyaratkan seseorang memperoleh atau mendapatkan gelar pahlawan nasional, antara lain seorang warga negara RI yang telah meninggal dunia, namun semasa hidupnya telah memimpin dan melakukan perjuangan untuk mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional. Pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya. Ia juga harus memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi, disamping kesetiaan kepada bangsa dan negaranya yang tidak perlu diragukan lagi, serta perjuangannya yang tidak pernah menyerah kepada lawan dalam rangka menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beberapa kriteria menonjol tersebut ada pada diri Slamet Rijadi. Sehingga dia layak disebut sebagai pahlawan nasional, karena jiwa kepahlawanan terdapat dalam dirinya. Hakekat Kepahlawanan sendiri memiliki arti memberikan suri tauladan kepada generasi mendatang untuk mereka jadikan pegangan dan sumber inspirasi. Agar mereka memiliki kebanggaan dan rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa dan tanah airnya. Perjuangan dan pengabdian yang diberikan Slamet Rijadi sepanjang hidupnya untuk bangsa Indonesia, mendorong pemerintah RI menganugerahkannya sebagai Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar ini diberikan setelah pencalonan Slamet Rijadi memenuhi kriteria yang disyaratkan dan setelah melalui prosedur yang ditetapkan oleh Badan Pembina Pahlawan Pusat Departemen Sosial. Badan independen yang terdiri dari Kepala Pusat Sejarah TNI, Perpustakaan Nasional, Badan Arsip Nasional, kalangan Perguruan Tinggi dan pakar sejarah ini telah melakukan uji kelayakan dan persyaratan bagi pencalonan Slamet Rijadi, dan hasil kajian dari badan ini kemudian disampaikan kepada Presiden sebagai bahan keputusan. Hasil dari keputusan tersebut,  Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Slamet Rijadi  pada tanggal 9 November 2007 di Istana Negara, Jakarta. Penganugerahan gelar ini diberikan kepada Slamet Rijadi untuk tindak kepahlawanannya dalam perjuangannya meraih kemerdekaan, serta dalam merebut, membela dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia dengan selalu menjunjung tinggi prinsip persatuan dan kesatuan, sehingga dapat dijadikan teladan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Selain gelar Pahlawan Nasional, Slamet Rijadi juga mendapat  penganugerahan bintang kehormatan tanda jasa Mahaputera Adipradana berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 066/TK/tahun 2007 tanggal 6 November 2007.

Siapakah Ignatius Slamet Rijadi

Ignatius Slamet Rijadi dilahirkan di Kampung Danukusuman, Solo, pada tanggal 28 Mei 1926 dengan nama Soekamto. Namun belum genap usianya 1 tahun namanya diganti menjadi Slamet, karena Soekamto kecil sering sakit-sakitan. Seiring waktu karena banyaknya nama Slamet, maka oleh gurunya nama Slamet ditambah menjadi Slamet Rijadi, dan nama lengkap ini dipakainya sampai dewasa.

Jiwa kemiliteran yang dimilikinya mengalir dari ayahnya yang seorang perwira rendahan legiun kasunanan bernama Idris Prawiropralebdo. Slamet Rijadi memiliki sifat yang pendiam tetapi tegas dan pemberani. Hal ini dibuktikannya pada suatu peristiwa saat akan diadakannya peralihan kekuasaan di Solo oleh Jepang yang dipimpin oleh Suchokan Watanabe, yang merencanakan untuk mengembalikan kekuasaan sipil kepada kedua kerajaan yang berkedudukan di Surakarta, yaitu Kasunanan dan Praja Mangkunegaran. Namun rencana tersebut menimbulkan rasa tidak puas rakyat. Sehingga diwakili oleh para pemuda bertekad untuk mengadakan perebutan senjata dari tangan Jepang. Maka diutuslah Muljadi Djojomartono dan Suadi untuk melakukan perundingan dengan pihak Jepang di Markas Kempeitai (polisi militer Jepang). Akan tetapi sebelum utusan tiba di markas, seorang pemuda telah berhasil menerobos ke dalam markas yang dijaga ketat dengan meloncati tembok dan membongkar atap markas Kempeitai. Dialah seorang pemuda bernama Slamet Rijadi. Aksi Slamet Rijadi ini cukup mencengangkan pihak Jepang yang tidak menyangka sama sekali seorang pemuda berani masuk dalam penjagaan ketat Kempeitai mereka.

Selain memiliki keberanian diatas remaja seusianya, Slamet Rijadi juga adalah siswa yang berprestasi. Pada tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di Holland Inlandse School (HIS) kemudian ke Meet Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO ) Afdeling B. Namun sayangnya saat meletus Perang Dunia II, ia terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya dan ikut serta di dalam kegiatan pertahanan Bumi Putera, meskipun usianya baru 15 tahun. Pada saat Jepang menduduki Indonesia dan mulai mengarahkan pada pembentukan tentara, Slamet Rijadi mudapun tidak ketinggalan, ia masuk pada pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi dan memperoleh ijazah Navigasi dengan predikat juara pertama. Minatnya pada bidang kelautan ini mendorong Slamet Rijadi mengikuti kursus tambahan, sehingga ia kemudian diangkat menjadi navigator pada kapal-kapal kayu yang berlayar antar nusantara.

Menjelang proklamasi, Slamet Rijadi berhasil mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang. Usaha Jepang untuk menangkapnya tidak pernah berhasil sampai pemerintah mereka menyerah pada Sekutu. Bahkan Slamet Rijadi kemudian berhasil menghimpun kekuatan perjuangan yang terdiri dari pemuda-pemuda bekas Peta-Heiho/Kaigun. Mereka ini nantinya yang mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer dari tangan Jepang di kota Solo. Karena keberhasilan dan keberaniannya dalam menghadapi Jepang tersebut, pada saat setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia pun diangkat sebagai Komandan Batalyon II Divisi X dalam usia yang masih sangat muda 19 tahun.

Dalam perkembangan selanjutnya, karena adanya pergantian pimpinan dan susunan organisasi, maka Divisi X dirubah dengan nama Divisi IV/Panembahan Senopati, kemudian menjadi Komando Pertempuran Panembahan Senopati, yang mempunyai 5 brigade tempur. Brigade V dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suadi Suromiharjo memiliki batalyon XIV yang merupakan batalyon pilihan dibawah komando Mayor Slamet Rijadi. Pasukannya terkenal dengan sebutan anak buah “Pak Met”. Batalyon XIV ini telah seringkali menyelesaikan berbagai persoalan di kota Solo dengan hasil gemilang.

Oleh karenanya tidak mengherankan apabila batalyon Slamet Rijadi mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan persoalan tawanan Jepang di Solo dan Jawa Timur. Disamping itu, Mayor Slamet Rijadi juga mendapat tugas internasional secara khusus tentang pemulangan Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI/Pemulangan kaum interniran) yang kegiatannya dipusatkan di Solo. Keberhasilan Slamet Rijadi dalam setiap tugasnya, menyebabkan kepercayaan terhadap batalyonnya semakin meningkat. Pada masa perang kemerdekaan, batalyonnya menjadi lawan utama pasukan-pasukan Belanda dalam melakukan aksinya di kota Solo. Nama Slamet Rijadi mulai dikenal karena hampir segala peristiwa kepahlawanan di kota Solo berada dibawah kepemimpinannya.

Pada waktu pemberontakan PKI Madiun 1948 pecah di Madiun, batalyon Slamet Rijadi yang sedang berada di luar kota Solo diperintahkan oleh Gubernur Militer II Jawa Tengah Kolonel Gatot Subroto untuk ikut membantu menumpas pemberontakan tersebut berdampingan dengan pasukan lainnya. Dari gerakan menumpas pemberontakan PKI Madiun, pasukan Slamet Rijadi berhasil merampas senjata-senjata milik kaum pemberontak. Keberhasilannya ini disebabkan karena kepandaiannya dalam mengatur strategi dan mengkoordinir anak buahnya. Dalam masa perang kemerdekaan, Mayor Slamet Rijadi dinaikkan pangkat dan jabatannya menjadi Komandan Brigade V Divisi II dengan pangkat letnan kolonel sekaligus Komandan Wehkreise I (WK I) meliputi daerah Surakarta dan Madiun. Pada masa ini, Letnan Kolonel Slamet Rijadi membuktikan kecakapannya sebagai prajurit yang tangguh dan militan dengan mengambil prakarsa mengadakan serangan umum terhadap kota Solo selama empat hari empat malam.