Letjen TNI Oerip Soemohardjo

OERIP SOEMOHARDJO, LETNAN JENDERAL TNI

 

Letjen Oerip Soemohardjo dilahirkan di desa Sindurejan, Purworejo, sebagai putra pertama dari Soemohardjo, seorang mantri guru HIS. Ibunya adalah seorang putri Tumenggung Wijoyokusumo, Bupati Trenggalek. Letjen Oerip Soemohardjo bersama kedua adiknya Iskandar dan Sukirno dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mampu dan cukup terpandang.

Ketika masih kecil beliau bernama Muhammad Sidik. Karena kenakalan atau lebih tepatnya disebut keberaniannya, pada suatu hari Sidik terjatuh dari pohon kemiri. Beberapa jam lamanya tidak sadarkan diri. Berita ini sangat mencemaskan kakeknya Tumenggung Wijayakusuma, ia segera mengirimkan utusan ke Purworejo, memberitahukan kepada orang tua Sidik, supaya nama anak itu diganti dengan Oerip dengan harapan akan hidup terus. Menurut kepercayaan sebagian orang Indonesia, bila seorang anak sangat nakal atau sering sakit-sakitan,maka nama anak harus diganti dengan nama lain. Ketika itu Muhammad Sidik sudah duduk di H.I.S. (Hollandsch Inlandsche School – Sekolah Dasar).

Perubahan nama tersebut ternyata tidak mengubah kelakuannya. Ia tetap Sidik yang dulu walaupun dengan nama baru. Oerip menjadi pemimpin dari gerombolan anak-anak di Sindurejan. Ia menentukan apa yang harus dilakukan oleh kawan-kawannya. Ia akan berdiri di barisan paling depan untuk melindungi mereka, kalau diganggu oleh gerombolan anak-anak lainnya. Ketika suatu kali di Purworejo diadakan pertunjukan sirkus, Oerip memimpin kawan-kawan memanjat pohon yang tumbuh dekat tempat pertunjukan itu. Dengan demikian, anak-anak kecil itu dapat menonton dengan tak usah membayar.

Ayah Oerip mempunyai beberapa ekor kerbau. Oerip senang sekali menggiring kerbau-kerbau itu di jalan-jalan di dalam kota. Ia dengan bangga duduk di atas punggung seekor kerbau besar. Perbuatannya itu menyebabkan lalu lintas terhalang, bahkan suatu kali kendaraan Bupati Purworejo terpaksa berhenti.Akibatnya ayah Oerip dipanggil ke Kabupaten dan Mantri guru itu berjanji akan melarang anaknya melakukan pekerjaan yang tidak baik itu.

Duduk di dalam kelas merupakan siksaan bagi Oerip. Ia menganggap dengan sekolah itu kebebasan bermain-main menjadi terhalang. Karena itu Oerip tidak termasuk murid yang pandai. Tetapi H.I.S berhasil diselesaikannya, sesudah itu selama satu tahun, ia memasuki sekolah Belanda untuk memperlancar bahasa Belandanya. Di sekolah ini ia terpaksa duduk satu kelas dengan anak-anak perempuan. Dengan cara demikian, orang tuanya mengharapkan agar Oerip akan menjadi lebih tenang. Baik orang tuanya maupun Bupati Wijayokusuma mengharapkan agar Oerip kelak menjadi seorang Bupati menggantikan kakeknya. Kakeknya dari pihak ayahnya mengharapkan agar Oerip menjadi seorang alim dan suatu waktu kelak naik haji ke Mekah.Tetapi perjalanan hidup Oerip membuktikan bahwa tidak satupun di antara harapan itu terkabul.

Dalam tahun 1906, setelah menyelesaikan sekolah Belanda, Oerip dikirim ke Magelang untuk mengikuti pendidikan pada OSVIA (Opleiding School Voor Indische Ambtenaren = sekolah pendidikan untuk pegawai Pangreh Praja Hindia). Tiga tahun kemudian ibunya meninggal dunia. Bersamaan dengan itu meninggal pula kakeknya, Bupati Wijayokusumo. Sejak kematian ibunya, Oerip berubah menjadi anak yang pendiam, tenang dan murung. OSVIA tidak lagi menarik perhatiannya. Ia ingin mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang sesuai dengan panggilan jiwanya. Menjadi seorang Pamong Praja bukanlah keinginannya. Ia memasuki OSVIA hanya karena desakan yang keras dari orang tuanya.

Magelang terkenal sebagai kota militer, dan Oerip berkenalan dengan salah seorang anggota militer Belanda. Dari perkenalan itu ia banyak mengetahui kehidupan seorang tentara. Oerip mulai merasa bahwa kehidupan yang demikiahlah yang sesuai dengan jiwanya. Keinginan untuk menjadi tentarapun berkembang menjadi subur.

Oerip meninggalkan Magelang dalam tahun 1910, ketika itu ia harus memasuki OSVIA bagian kedua. Tampa memberitahukan kepada ayahnya, ia berangkat ke Jakarta dan mendaftarkan diri untuk mengikuti pendidikan militer. Ia diterima pada sekolah perwira (Inlandsche Oficier) di Jatinegara. Ayahnya tidak setuju, tetapi tak kuasa membantah keinginan putra sulungnya itu.

Di sekolah perwira di Jatinegara, Oerip berlatih menjadi seorang infantri. Empat tahun kemudian ia sudah dilantik sebagai perwira KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger = Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dengan pangkat Letnan Dua. Ia lulus dengan memperoleh penghargaan.

Sesudah itu mulailah kehidupan Oerip sebagai seorang tentara. Mula-mula ia ditempatkan di Garnizun Jatinegara. Dalam tahun 1916 kemudian dipindahkan ke Banjarmasin. Dari sini dipindahkan ke Tanah Grogot dekat Balikpapan dan akhirnya ke Malinau. Status sebagai perwira KNIL tidak menyebabkan Oerip buta terhadap nasib bangsanya. Sedapat mungkin ia berusaha mencegah penghinaan yang dilakukan orang-orang Belanda terhadap orang-orang Indonesia. Selama bertugas di Kalimantan tercatat beberapa peristiwa yang menunjukan usaha itu. Di Banjarmasin ia melancarkan protes karena perlakuan yang tidak adil terhadap perwira Indonesia. Ketika diadakan perayaan memperingati hari lahir Ratu Belanda, Oerip tidak muncul di gedung tempat upacara. Ia dipanggil Komandannya, seorang Kolonel dan dituduh tidak menghormati hari lahir Ratu. Oerip menjelaskan bahwa gedung tempat upacara tertutup bagi perwira-perwira Indonesia. Sejak peristiwa itu peraturan diubah, sehingga perwira-perwira Indonesia boleh memasukinya.

Perusahaan minyak BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di Balikpapan, mengadakan diskriminasi terhadap pegawai-pegawai Indonesia. Kereta api kecil milik perusahaan itu hanya boleh dinaiki oleh pegawai-pegawai Belandao. Suatu kali Oerip ikut menumpang dan ia diperintahkan turun oleh kondektur dengan alasan ia orang Indonesia. Sebaliknya Oerip memerintahkan Kereta Api itu berhenti, pihak BPM mengadukan tindakan itu ke Departemen Perang. Ternyata Oerip menang. Departemen perang menyetujui tindakannya dan sejak itu orang Indonesia diizinkan naik kereta api.

Setelah tujuh tahun bertugas di Kalimantan, dalam tahun 1923 Oerip dipindahkan ke Cimahi, Jawa Barat. Kota kecil ini tidak lama ditempatinya sebab beberapa bulan kemudian ia sudah dipindahkan ke Purworejoo Hampir dua tahun lamanya Oerip bertugas di kota kelahirannya ini. Dalam bulan Oktober 1925 Oerip ditempatkan di Magelango Kembali ke kota itu menimbulkan suatu gairah baru baginya. Suatu kali Kapten Oerip bertemu dengan Rohmah Subroto yang pernah dikenalnya sebagai gadis kecil, ketika ia belajar di OSVIA. Rohmah adalah putri guru, Bapak Subroto. Tanggal 30 Juni 1926 mereka menikah. Sayang dari pernikahan ini mereka tidak dikaruniai seorang anakpun.

Pada tahun 1927 Oerip di tugaskan di Ambarawa. Setelah menjalani masa cuti di Eropa, dalam tahun 1929 ia ditempatkan di Jatinegara sampai tahun 1932. Sesudah itu dipindahkan ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Bebarapa waktu sebelumnya di kota dingin itu terjadi kerusuhan. Seorang pembesar Belanda tewas dibunuh oleh rakyat. Karena itu beralasanlah jika teman-teman Oerip menasehatkan, agar ia berhati-hati rnenghadapi penduduk. “Jangan lupakan senjata dan herder”. Tetapi Oerip memiliki senjata yang lebih ampuh. Ia menganggap penduduk sebagai teman dan mempercayai rnereka. Cara-cara perwira ini mendekati penduduk, menyebabkan mereka dihormati dan disegani. Ketika dalam tahun 1935 Oerip meninggalkan Padang Panjang, penduduk setempat melepaskannya dengan penghormatan besar dan tulus.

Setelah menjalani cuti untuk kedua kalinya di Eropa pada tahun 1936, Oerip ditempatkan di Purworejo. Sekali lagi ia kembali ke kota kelahirannya. Dan di kota ini pula Mayor Oerip mengalami peristiwa yang menyebabkan ia minta berhenti dari dinas militer. Tanggal 31 Agustus 1938 Masyarakat Purworejo mengadakan upacara rnemperingati hari lahir Ratu Belanda. Bila dalam upacara yang serupa beberapa tahun yang lalu di Banjarmasin ia mencatat sebuah kemenangan dalam usahanya melenyapkan diskriminasi, maka sekali ini Oerip terpaksa menerirna kekalahan. Oerip menetapkan bahwa para undangan sudah harus hadir di lapangan upacara setengah jam sebelum upacara dimulai. Bupati Purworejo datang terlambat. Oerip melarang Bupati memasuki lapangan upacara. Bupati mengajukan protes dan persoalan itu sarnpai ke Departemen Perang. Tetapi kali ini Oerip dikalahkan. Departermen Perang memutuskan, Oerip harus pindah ke Gombong tetapi pangkat dinaikkan menjadi Letnan Kolonel. Karena yakin tidak bersalah, ia menolak dan langsung minta berhenti dari dinas militer.

Teman-temannya menyarankan agar ia menerirna putusan Departemen Perang itu. Tetapi Oerip tetap Oerip. Teguh dalam pendirian dan berani. Ia tidak bisa kompromi dengan suatu yang tidak adil. Mayor KNIL yang telah 24 tahun menjalani masa dinas itu menerima pensiun. Selanjutnya Oerip hidup sebagai penduduk biasa. Di desa Gentan dekat Kaliurang Yogyakarta, ia membeli sebidang tanah. Di tempat itu Oerip mengisi waktu lowongnya sebagai seorang petani.

Keinginan itu mungkin akan terkabul dan ia akan hidup tenang, jika tidak terjadi perang dunia II. Dalam bulan Mei 1940 Negeri Belanda diduduki Jerman. Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi untuk menghadapi kemungkinan terjadinya perang di wilayah itu. Oerip mendaftarkan diri bukan karena ia menyenangi pemerintah Belanda, tetapi karena antipatinya terhadap fasisme. Kedatangannya di Bandung diterima dengan senang hati oleh teman-teman lamanya.

Tanggal 8 Desember 1941 Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbor. Keesokkan harinya Belanda mengumumkan perang terhadap Jepang. Tetapi Angkatan perang Hindia Belanda tidak cukup kuat untuk menahan serbuan tentara Jepang. Tanggal 8 Maret 1942 Panglima Tentara Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat. Tentara Belanda menjadi tawanan Jepang. Oerip termasuk di dalamnya. Bersama-sama tawanan lainnya ia dimasukan ke kamp tawanan di Cimahi. Kurang lebih tiga bulan lamanya ia harus meringkuk dalam rumah tahanan. Dalam masa ini ia mulai mengidap penyakit jantung.

Dalam bulan Juni 1942 Oerip dibebaskan. Seorang perwira Jepang, berpangkat Kolonel, mengembalikan pedang Oerip yang dulu dirampas sewaktu ia ditawan. Hal itu berarti, bahwa Jepang menghargai tawanannya yang seorang ini. Lebih dari itu kepadanya ditawarkan untuk membentuk pasukan polisi. Tetapi Oerip yang memang tidak mau bekerja sama dengan Jepang, menolak. Ia pulang ke desa Gentan. Di Gentan ia hidup sebagai petani. Karena ia seorang bekas KNIL, gerak-geriknya tidak luput dari pengamatan kaki tangan Jepang. Apalagi di Gentan sering datang beberapa orang pernuda, antara lain A.H. Nasution yang kelak akan menjadi seorang tokoh ABRI. Dari pemuda-pemuda itu ia memperoleh informasi mengenai perkembangan perang. Ia yakin bahwa pada akhirnya Jepang pasti kalah.

Apa yang diduga itu memang terjadi, tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Serikat. Sebelumnya, dalam bulan Mei 1945, Jerman menyerah pula di Eropa. Dengan demikian berakhirlah Perang Dunia II.

Peristiwa berkembang dengan cepat. Tanggal 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Dengan demikian terbentuklah sebuah negara baru di kawasan Asia Tenggara. Tetapi bekas pensiunan militer yang sudah berumur 52 tahun itu tak habis pikir mengapa pemerintah tidak segera membentuk angkatan perang, justru pada saat-saat negara muda itu menghadapi ancaman militer dari luar. Pemerintah hanya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Tidak heran kalau ia melontarkan ucapan : “aneh negara zonder tentara”.

Untunglah apa yang dirasanya aneh itu tidak berlangsung terlalu lama. Tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah mengumumkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sampai saat itu Oerip tidak menyadari, bahwa ia akan terlibat dalam kesibukan mengurus tentara yang baru terbentuk itu. Ia pun tidak tahu, bahwa di Jakarta beberapa orang anggota bekas KNIL menyarankan kepada pemerintah agar menunjuk Oerip sebagai pimpinan TKR. Pemerintahpun mulai teringat kepada warga negaranya yang pernah selama seperempat abad menjalani dinas militer. Sepucuk telegram yang ditandatangani oleh Wakil Presiden dikirimkan ke Gentan. Atas dasar telegram itu, Oerip berangkat ke Jakarta. Langkah pertama yang dilakukan di kota ini ialah mengumpulkan beberapa orang bekas perwira KNIL. Sesudah itu dikeluarkan pernyataan bersama yang ditandatangani oleh 13 orang bekas perwira, bahwa mereka tidak terikat lagi dengan sumpah KNIL. Pada urutan teratas tercantum tanda tangan Oerip Soemohardjo.

Pada tanggal 15 Oktober Oerip atau lebih tepatnya Pak Oerip sudah duduk bersama para menteri yang mengadakan sidang kabinet di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Dalam sidang kabinet itu ia diangkat menjadi Kepala Staf Umum TKR. Dua pejabat lainnya di tunjuk pula, yakni Muhammad Sulyoadikusumo sebagai Menteri ad Interim dan Supriyadi sebagai pimpinan tertinggi TKR. Pengangkatan ketiga pejabat itu diumumkan pada tanggal 20 Oktober 1945. Akan tetapi Muhammad Sulyoadikusumo maupun Supriyadi tidak pernah menduduki jabatan yang sudah ditentukan itu. Dengan demikian sejak itu Pak Oerip kembali kedunianya, yaitu dunia militer. Sebuah ruangan di Hotel Merdeka (sekarang Hotel Garuda) di Yogyakarta, disulap menjadi kantor Markas Besar Umum TKR. Beberapa orang tenaga muda, antara lain TB. Simatupang dan S. Suryadarma, dipanggil untuk membantu menyusun organisasi.

Tugas yang dihadapi cukup berat. Tentara yang baru dibentuk itu jauh dari sempurna. Jumlahnya terlalu banyak. Semangat revolusi terlalu menonjol yang kadang-kadang menghilangkan pertimbangan rasional. Di Jawa terdapat sepuluh divisi dan di Sumatera lima. Pak Oerip sebenarnya kurang setuju dengan jumlah sebanyak itu. Ia menginginkan hanya empat divisi, tiga divisi dan di Jawa dan satu di Sumatera. Tetapi ia tidak mungkin bertindak terlalu drastis,  menghapuskan apa yang sudah ada itu. Karena itu, sekalipun berlawan dengan kata hatinya, Pak Oerip terpaksa mengesahkan divisi-divisi yang sudah ada.

Untuk  mengisi  kekosongan  Pimpinan Tertinggi TKR, karena Supriyadi tidak pernah muncul, Pak Oerip mengundang komandan-komandan divisi ke Yogyakarta. Dalam rapat yang berlangsung pada bulan November 1945 dipilih seorang Panglima Besar. Terdapat tiga calon, Oerip, Soedirman dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar, sedangkan Oerip tetap menduduki jabatannya sebagai Kepala Staf. Pada tanggal 18 Desember 1945 Soedirman dan Oerip dilantik sebagai Panglima Besar dan Kepala Staf Umum, masing-masing dengan pangkat Jenderal dan Letnan Jenderal.

Untuk menyempurnakan organisasi TKR, Soedirman menyerahkan tugas itu kepada Pak Oerip. Organisasi itu disusun sesuai dengan organisasi Departemen Perang Hindia Belanda. Tanggal 7 Januari 1947 nama Tentara Keamanan Rakyat diganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan kependekan tetap TKR. Dalam bulan itu terjadi lagi pengantian nama menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Sesudah itu kemudian dibentuk panitia Besar Reorganisasi tentara dengan tugas untuk menyempurnakan organisasi TRI dan organisasi kementerian pertahanan. Dalam panitia itu Pak Oerip duduk sebagai anggota, panitia itu telah berhasil memperbarui organisasi dan susunan divisi dengan jumlahnya dikurangi. Hasil tersebut disetujui pemerintah. Pada tanggal 20 Mei 1946 Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo untuk kedua kalinya dilantik sebagai Kepala Staf Umum.

Masalah pertahanan tetap menuntut pemikiran Kepala Staf Umum itu. Bersama-sama Pak Dirman, Pak Oerip terus berusaha untuk lebih menyempurnakan aparat pertahanan yang ada. Pada waktu itu di samping tentara resmi terdapat pula laskar-laskar yang dibentuk oleh Badan-badan perjuangan. Mereka berafikasi kepada partai politik atau ideologi tertentu. Hubungan tentara resmi dengan laskar tidak selamanya berada dalam keadaan yang harmonis.

Bersama-sama dengan Pak Dirman, Pak Oerip berusaha menyatukan kedua aparat pertahanan itu. Pengaruh politik terlalu besar terhadap laskar-laskar. Pimpinan laskar tidak bersedia bergabung begitu saja dengan TRI. Di Kementerian Pertahanan pun terdapat kelompok yang ingin tetap mempertahankan adanya laskar sesuai dengan kepentingan politik kelompok tersebut. Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin, salah seorang golongan kiri, ternyata mempunyai pengaruh yang cukup besar.

Di dalam TRI sendiripun reorganisasi yang sudah disetujui pemerintah tidak berjalan dengan lancar. Pergantian para panglima tidak semudah seperti yang dibayangkan. Kebanyakan panglima tidak bersedia menyerahkan kekuasaan kepada penggantinya. Mereka menganggap telah banyak berjasa. Merekalah yang membentuk divisi dan merekalah yang telah membinanya selama ini. Sebagai seorang militer sejati Pak Oerip tidak dapat menerima sikap demikian. Baginya, perintah adalah perintah dan setiap perintah harus dijalankan. Tetapi sebagai seorang manusia yang hidup dalam masa revolusi, ia terpaksa menerima kenyataan yang kurang baik itu.

Masalah pendidikan militer tidak luput dari perhatian pak Oerip. Atas usaha beliau berdirilah di Yogyakarta sebuah Militaire Akademie (MA) yang kemudian berkembang menjadi Akademi Militer Nasional. Pada waktu ini akademi itu telah berkembang menjadi Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Dalam usahanya membina Angkatan perang, Pak Oerip seringkali harus berhadapan dengan ambisi-ambisi politik. Bahkan dengan pemerintah pun kadang-kadang tidak terdapat penyesuaian faham. Di Kementerian Pertahanan terdapat beberapa jawatan yang masing-masing mempunyai tentara sendiri dan berusaha menyaingi TRI. Jawatan-jawatan ini dikuasai oleh golongan kiri. Politik pemerintah lebih lendership menjalankan politik diplomasi, berunding dengan Belanda sehingga posisi Angkatan perang banyak dikorbankan. Wajarlah bila prajurit tua itu merasa sakit hati. Perjanjian Linggajati yang ditandatangani dalam bulan Maret 1947 dipandangnya tidak lebih dari pembela jalan bagi Belanda untuk melancarkan agresi militernya.

Sementara itu persoalan dengan laskar tetap belum terpecahkan. Sebuah panitia baru dibentuk untuk menggabungkan laskar dengan TRI. Setelah melalui pendekatan yang cukup panas dan waktu lama, akhirnya pada tanggal 5 Mei 1947 keluarlah keputusan presiden tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dalam keputusan itu disebutkan bahwa mulai tanggal 3 Juni 1947 semua kekuatan bersenjata yang ada sudah harus bergabung dengan TNI. Hal ini berarti laskar-laskar harus melebur dirinya ke dalam TNI.

Tetapi sebelum penggabungan dilaksanakan, Belanda sudah melancarkan Agresi Militer I yang dimulai tanggal 21 Juli 1947. TNI mengalami pukulan-pukulan yang hebat dan terpaksa mengundurkan diri ke daerah pedalaman. Dari sini mereka menyusun kekuatan kembali dan melancarkan serangan balasan. Tetapi pada saat-saat ini kreatif mulai beralih ke tangan TNI, pemerintah kembali mengadakan perundingan dengan Belanda. Dari perundingan itu lahirlah perjanjian Renville yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948.

Letnan Jenderal Oerip tidak dapat lagi menahan rasa kesalnya. Ia menentang kebijaksanaan yang dijalankan pemerintah. Pak Oerip menuduh pemerintah mengkhianati Angkatan perangnya sendiri. Karena itu ia minta berhenti dari jabatannya sebagai Kepala Staf dan mengundurkan diri sama sekali dari dinas militer, walaupun ia diangkat sebagai penasehat militer Presiden, tetapi perhatiannya sudah jauh berkurang. Ia tak mungkin lagi mengalahkan rasa kecewanya. Sementara itu penyakit jantung mulai menyerang dirinya.

Dalam keadaan yang demikian ia masih menyaksikan terjadinya sebuah bencana nasional. Perjanjian Renville menimbulkan perpecahan politik. Amir Syarifuddin yang tersingkir dari jabatannya sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, membentuk kelompok oposisi yang terdiri dari gabungan golongan kiri. Sesudah itu datang Musso yang menyatakan semua itu dalam wadah PKI. Apa yang sejak semula sudah diperkirakan oleh pak Oerip pun terjadi tanggal 18 September 1948 PKI (Partai Komunis Indonesia) melakukan pemberontakan di Madiun Angkatan Perang terpecah belah, sebagian dapat diperalat oleh PKI dan memberontak terhadap pemerintah.

Pak Oerip bertambah sakit mendengar peristiwa itu. Tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, penyakit jantungnya memaksa ia beristirahat di rumah. Pada tanggal 17 November 1948, Kepala Staf Angkatan Perang itu meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Dengan wafatnya Pak Oerip Soemohardjo pemerintah memutuskan untuk menaikkan pangkat beliau, dari Letnan Jenderal menjadi Jendera1 Anumerta dan diberikan sebuah bintang Sakti dalam tahun 1959. Setahun kemudian disusul dengan penganugerahan Bintang Mahaputra. Dalam tahun 1967 pemerintah memberikan lagi Bintang Republik Indonesia disusul dalam tahun 1968 dengan Bintang Kartika Eka paksi Utama. Penghargaan tertinggi diberikan dengan mengangkat Jenderal Oerip Soemohardjo sebagai pahlawan nasional.

Subdisjianhubmas Dislissaji

Jl. Gatot Subroto Kav. 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *