Jenderal Gatot Soebroto

JENDERAL GATOT SUBROTO
( 1907- 1962 )

A.        MASA KECIL HINGGA REMAJA

 Memasuki Pendidikan Umum

Gatot Subroto dilahirkan dalam tahun 1907 sebagai putra sulung dari Sayid Yudoyuwono. Adik-adiknya ada tujuh orang. Sikapnya yang berani sudah diperlihatkan Gatot sejak masa kecilnya. Pada mulanya ia masuk sekolah Europese Lagere School (ELS), yaitu sekolah dasar yang khusus diuntukkan bagi anak-anak Belanda dan beberapa anak Indonesia pilihan. Sekolah itu dapat dimasukinya berkat bantuan Bupati Banyumas. Suatu kali ia berkelahi dengan anak residen Belanda. Akibatnya sangat fatal; Gatot dikeluarkan dari sekolah itu, karena sebagai anak Indone­sia ia telah berani melawan seorang anak Belanda. Lebih dari itu, ia tidak diizinkan untuk memasuki sekolah pemerintah; tetapi untunglah, seorang anggota keluarganya yang mengajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Cilacap, bersedia memberikan bantuan. Karena itu Gatot pindah dari Ba­nyumas ke Cilacap. Pendidikan umum ditempuh Gatot hanya sampai HIS saja. Sesudah itu ia bekerja sebagai pegawai. Tetapi ternyata pekerjaan kantor kurang sesuai dengan pembawaannya. la lebih cenderung memilih kehidupan yang banyak mengalami tantangan. Kehidupan yang demikian antara lain ditemui dalam dunia militer.

Memasuki Pendidikan Militer

Tahun 1928 Pemerintah Hindia Belanda membuka kesempatan. bagi anak-anak Indonesia berijazah sekolah rendah untuk mema­suki pendidikan militer. Kesempatan itu digunakan Gatot. la mendaftarkan diri dan diterima sebagai siswa Cader School di Magelang. Ketika itu ia sudah berusia 21 tahun. Tiga tahun lamanya ia dididik dalam sekolah militer itu. Setelah selesai, dengan pangkat Sersan Kelas II KNJL (Koninklijk Nederlands lndische Leger), ia ditugaskan di Padang Panjang, Sumater Barat. Lima tahun lamanya ia bertugas di kota dingin itu, sebelum dikirim ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk mengikuti pendidikan marsose. Agaknya atasannya melihat bahwa Sersan yang bertubuh kekar itu cocok untuk tugas di lapangan yang bersifat khusus.

Pendidikan di Sukabumi ditempuhnya dengan mudah. Sesudah itu ia ditempatkan di Bekasi dan Cikarang, yang pada waktu itu dianggap rawan. Selama bertugas di daerah ini wataknya semakin jelas; tegas tetapi bijaksana dan berwibawa, terus terang dan terbuka. Kepribadiannya yang lain ialah, tidak pandang bulu dalam menjalankan tugas, penuh humor seperti kebanyak­an orang Banyumas. Dalam menghadapi keadaan kritis ia dapat dengan cepat mengambil keputusan yang sepintas lalu seolah-olah tanpa perhitungan, tetapi kemudian ternyata bahwa, apa yang diputuskannya itu benar.

Pemerasan yang dilakukan oleh para lintah darat terhadap penduduk Bekasi-Cikarang, menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Rakyat banyak menderita. Kejahatan terjadi silih berganti, terutama dalam bentuk pencurian dan penggarongan. Sersan Marsose Gatot Subroto harus berusaha mengatasi gangguan keamanan itu. Betapapun, hukum yang berlaku harus ditegakkaan. Tanpa pandang bulu, yang bersalah harus ditangkap dan diaju­kan ke pengadilan. Hati nuraninya cukup tertekan bila ia harus menangkap seorang rakyat kecil yang mencuri hanya untuk sesuap nasi. Tetapi di samping itu ia tidak menutup mata bahwa, rakyat sangat menderita dan gangguan keamanan itu timbul karena rakyat terlalu tertekan akibat penjajahan.

Seorang anggota KNIL dilarang keras bergaul dengan rakyat. Tetapi bagi Gatot larangan itu tidak sepenuhnya dipatuhinya. Sebaliknya malah, ia bertindak menyalahi ketentuan yang ada itu. Dalam usahanya meringankan beban derita rakyat, seringkali ia memberikan sebagian gajinya kepada kelu­arga orang yang terhukum. Dengan uang itu keluarga tadi dapat berjualan secara kecil-kecil. Untuk itu seringkali ia harus menunda pengiriman biaya sekolah adiknya di Jakarta. Atasannya pun tidak dapat menyetujui tindakan yang terlalu memberi hati kepada rakyat itu. Karena itu ia sering mendapat teguran.

Ketika Perang Dunia II pecah, Gatot bertugas di Ambon. Di sini ia mengalami pengalaman tempur melawan pasukan Jepang. Tetapi ternyata lawannya lebih kuat. Setelah pertahanan Ambon jatuh ke tangan Jepang, Gatot menyingkir ke Makassar. Di kota itu ia menyempatkan diri berziarah ke makam Pangeran Diponegoro.

Gatot kembali ke kota kelahirannya Banyumas, dan hidup sebagai orang sipil. Tetapi status itu tidak bertahan lama. Pemerintah pendudukan Jepang mengetahui kemampuan yang ada dalam diri Gatot. la diminta untuk mengepalai sebuah detasemen polisi. Permintaan itu diterimanya dan mulailah ia berdinas dalam pemerintahan pendudukan Jepang.Tidak lama kemudian Gatot dikirim ke Bogor untuk dididik menjadi komandan kompi Tentara Pembela Tanah Air (peta). Selesai pendidikan ia diangkat sebagai Cudanco (Komandan Kompi) di Banyumas.

Suatu hari dalam tahun 1944, Kompi Gatot melakukan latihan penjaga­an pantai di suatu tempat di pantai Selatan, Sumpyuh. Pasukan itu dilatih oleh perwira-perwira Jepang, yang be rasaI dari kesatuan tempur. Gatot melihat anak buahnya sudah sangat letih, Karena itu ia memerintahkan supaya latihan dihentikan. Entah karena apa, perintah itu tidak diindahkan. Dengan amarah yang ditahan, ia segera bertindak tegas. Gatot melepaskan pedang dan atributnya sambil berseru, “Buat apa saya jadi Cudanco!” Dengan langkah tegap ia meninggalkan lapangan tempat latihan.

Suasana diliputi ketegangan. Para pelatih menjadi cemas. Bila Gatot melaporkan kejadian itu kepada atasan mereka, tak ayal lagi mereka pasti kena marah. Karena itu semua prajurit diperintahkan kembali ke asrama; Pedang komandan kompi yang tergeletak di tanah, segera diambil. Dalam tradisi militer Jepang, pedang merupakan simbul kehormatan tertinggi. Pedang itu kemudian dikembalikan kepada pemiliknya dan para pelatih itu meminta maaf atas kesalahan mereka. Tidak lupa pula mereka memohon agar peristiwa itu dianggap selesai sampai di situ.

Sebagai prajurit profesiorial yang sudah berpengalaman belasan tahun, Gatot mengetahui seluk beluk kehidupan militer. Mungkin pengetahuan teori tentang ilmu kemiliteran kurang dikuasai karena ia hanya seorang bintara. Tetapi seluk beluk tugas praktek kerja dan sikap mental prajurit sudah menjadi kebiasaan sehari-hari baginya. Faktor tersebut mempunyai pengaruh yang cukup menentukan dalam hubungan Gatot dengan para pelatih bangsa Jepang yang ditempatkan di kesatuannya. Karena kemampuan yang dimiliki itu, pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komandan batalyon (daidanco). Hal itu berarti tugas dan tanggung jawabnya bertambah besar. Tetapi semua itu dapat dijalankan Gatot dengan hasil baik.

B.        PERJUANGAN DAN PENGABDIAN

 Perjuangannya Pada Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949)

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Gatot berada di Banyu­mas. Hari-hari berikutnya para pemuda terlibat dalam usaha merebut senjata pasukan Jepang. Tujuannya adalah untuk mempertahahkan RI dari ancaman musuh. Di Banyumas, Gatot berhasil mengambil alih kekuasaan kepolisian dan sesudah itu ia diangkat menjadi KepaIa Kepolisian seluruh Karesidenan Banyumas. Selain itu ia juga aktif bersama-sama pimpinan BKR mengadakan perundingan dengan pihak Jepang dalam rangka mengambil alih kekuasaan. Hasilnya, Jepang menyerahkan seluruh persenjataan, sehingga BKR Banyumas memiliki persenjataan yang cukup banyak pada waktu itu. Malahan sebagian dari senjata itu dikirimkan untuk membantu BKR Jawa Barat.

Setelah Divisi V Purwokerto terbentuk di bawah pimpinan Kolonel Soedirman, Gatot diangkat menjadi Kepala Siasat. la turut mendampingi Kolonel Soedirman dalam pertempuran menghadapi pasukan Serikat di Ambarawa yang bertahan di benteng Willem I. Pertempuran itu merupakan ujian pertama bagi Gatot sebagai anggota pucuk pimpinan walaupun bukan pengalaman tempur pertama dalam karier militernya.

Dalam pertempuran di Ambarawa persenjataan musuh jauh lebih kuat. Mereka juga berpengalaman tempur selama Perang Dunia II. Meskipun kalah dalam persenjataan, tetapi pasukan Indonesia memiliki semangat tempur yang tinggi. Mereka dijiwai oleh tekad lebih baik mati dari pada dijajah lagi. Bagi kebanyakan di antaranya pertempuran Ambarawa merupakan praktek ber­tempur yang pertama. Untuk meningkatkan semangat tempur pasukannya, Gatot Subroto selalu mendengungkan “jagalah namamu jangan sampai dise­but pengkhianat bangsa”.

Pak Gatot ditunjuk sebagai komandan sektor front Ambarawa. Pertem­puran ini berlangsung sejak pasukan Serikat mundur dari Magelang tanggal 2l November 1945, dan berakhir tanggal 15 Desember 1945. Sementara itu Pak Dirman, Panglima Divisi V Purwokerto diangkat sebagai Panglima Besar TKR. Kedudukan Panglima Divisi V Purwokerto yang dijabat oleh Kolonel Sutirto, digantikan oleh Gatot. la ditetapkan memangku jabatan itu dengan pangkat Kolonel. Sebagai komandan divisi ia giat mengadakan inspeksi, sering berkeliling mengendarai kuda didampingi beberapa orang perwira muda.

Selaku pemimpin Gatot selalu terbuka untuk didekati dan mendekati bawahannya. Hal itu antara lain tampak dalam hubungannya dengan tentara pelajar. Kepada mereka disediakan kompi depot tempat latihan. Instruk­turnya dikerahkan bekas prajurit KNIL yang sudah berpengalaman. Sifat kebapakannya sangat dihargai oleh pasukan pelajar Banyumas. Pada waktu akan menghadapi Agresi Militer I Belanda; Markas Divisi dikawal oleh sepele­ton pasukan tentara pelajar. Pesawat pengintai Belanda sudah sering terbang di atas kota Purwokerto. Pada suatu malam ia menunggang kuda tanpa me­makai baju meskipun sepatu boot terpasang di kakinya. Di depan pos penja­gaan ia berhenti, dan sambil bertolak pinggang ia bertanya kepada pasukan jaga : “Apakah anak-anak takut?” Dijawab oleh kepala jaga : “Takut, Pak”. Sambil manggut-manggut pak Gatot berkata : “Ya, baik! Orang yang menga­takan tidak takut itu berbohong. Pak Gatot juga takut”.

Pada tahun 1948 Pak Gatot menikah dengan seorang gadis yang ber­tugas di bidang kesehatan, bernama Soepiah. Mereka, dikaruniai enam orang anak, dua perempuan dan empat laki-laki.

Menjelang meletusnya pemberontakan PKI di Madiun, Gatot Subroto diangkat menjadi Panglima Corps Polisi Militer. Pada waktu itu situasi dalam negeri mulai dilanda kekacauan yang dilakukan pihak Komunis dalam rangka mematangkan situasi pemberontakan. Kota Solo. dijadikan daerah wild west (daerah tak bertuan) oleh PKI. Bentrokan bersenjata terjadi antara pasukan Siliwangi dengan pasukan Panembahan Senopati yang beberapa oknumnya telah dipengaruhi PKI. Bentrokan itu jelas sangat merugikan perjuangan. Untuk mengatasi keadaan itu, Panglima Besar beserta Kepala Staf Markas Besar Angkatan Perang dan Panglima Corps Polisi Militer mengadakan rapat di MBAP (Markas Besar Angkatan Perang). Mereka bertiga sepakat mengusul­kan kepada Pemerintah, supaya mengangkat Kolonel Gatot Subroto menjadi Gubernur Militer untuk daerah Surakarta, Madiun dan Pati. Usul itu diterima. Sebagai Gubernur Militer tugas utamanya ialah mengembalikan keamanan di daerah Surakarta, dan melaksanakan penertiban pasukan. Dalam pelaksanaan tugas tersebut ia harus mematahkan kekuatan yang melawan Pemerintah. Tugas ini telah dilaksanakannya dengan baik.

Setelah keamanan daerah Surakarta tercapai, pada tanggal 18 Septem­ber 1948 PKI melakukan pemberontakan di Madiun. Pemerintah segera ber­tindak untuk menumpasnya. Gubernur Militer Gatot Subroto mempersiap­kan pasukan-pasukan yang akan digerakkan untuk operasi penumpasan dari arah barat. Dalam waktu singkat pemberontakan PKI Madiun berhasil ditum­pas.

Tiga bulan kemudian, pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melan­carkan agresi militer kedua. Selaku Gubernur Militer, Gatot Subroto segera mengatur siasat untuk melaksanakan perang gerilya.

Hubungan Gatot dengan Jenderal Soedirman berjalan baik. Soedirman menganggap Gatot sebagai kakak, walaupun pangkat Gatot lebih rendah. Setelah Perjanjian Roem-Royen ditandatangani, Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta. Tetapi Jenderal Soedirman masih berada di daerah gerilya me­mimpin anak buahnya dan tidak mau kembali ke Yogya. Hanya surat pribadi Gatot Subrotolah yang berhasil melemahkan pendirian Panglima Besar ini, sehingga pada tanggal 10 Juli 1949 Jenderal Soedirmankembali ke Yogya.

Menegakkan Keamanan Dalam Negeri

Setelah Pengakuan Kedaulatan, Kolonel Gatot Subroto diangkat menjadi Panglima Teritorium Jawa Tengah berkedudukah di Semarang. Walaupun Perang Kemerdekaan telah selesai, selaku Panglima Jawa Tengah Gatot masih melaksanakah operasi miiter untuk memulihkan keamanan yang diganggu oleh DI/TII.

Dalam tahun 1952 Gatot Subroto diangkat sebagai Panglima tentara dan Teritorium VII Wirabuana, berkedudukan di Ujungpandang. Tugasnya ialah menyelesaikan gangguan keamanan yang disebabkan oleh gerombolan Kesatuan Girilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpin oleh Kahar Muzakar. Ia menggariskan suatu kebijaksanaan yang bergaris rangkap.Di samping operasi tempur diadakan kampanye menyadarkan  mereka. Caranya dengan menarik mereka kembali ke dalam TNI secara bertahap. Ia beranggapan bahwa mereka itu adalah bekas

Pejuang kemerdekaan, yang disesatkan oleh pimpinannya. Hasil kebijaksanaan Pak Gatot ini ialah, banyak gerombolan yang sadar. Mereka kemudian dilantik kembali sebagai anggota TNI atau disalurkan ke pekerjaan yang mereka pilih. Sudah barang tentu tidak semua orang setuju dengan kebijaksanaan ini. Dua orang anggota DPR, yaitu Bebasa Daeng Lalo dan Rondonuwu mencela dengan keras kebijaksanaan itu. Mereka mengirim laporan ke DPR bahwa Kolonel Gatat Subroto menyalahi kebijaksanaan Pemerintah Pusat.

Sesudah peristiwa 17 Oktober 1952, di Jakarta, pada tanggal 18 Novem­ber 1952 Panglima T & T VII di “daulat” oleh Kepala Stafnya Letnan Kolo­nel Warrouw. Kekuasaannya diambil alih, karena Pak Gatot dianggap terang­-terangan mendukung peryataan pimpinan Angkatan Darat. Sebagai “orang ­tua” Pak Gatot memilih mundur dari pada ikut bermain politik yang tidak menentu. Sejak itu, ia menetap di Semarang sebagai orang sipil, sambil membangun rumah di Ungaran.

Menjabat Sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat

Dalam tahun 1955 ia pindah kerumah yang baru selesai dibangun itu, yang direncanakannya Sebagai tempat tinggal tetap. Di sinilah ia bermaksud menghabiskan hari Tuanya. Akan tetapi ternyata setahun kemudian pemerin­tah memanggil kembali dan mengangkatnya menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dengan tugas mengurus Urusan dalam Angkatan Darat. Urusan pimpinan umum berada di tangan KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Kolonel A.H. Nasution.

Perhatiannya terhadap dunia pendidikan cukup besar. Pendidikan Akademi Militer Nasional (sekarang Akabri) sebagai tempat penggodokan calon pimpinan, tidak luput dari perhatiannya. la sendiri merasakan betapa pentingnya pendidikan militer formil yang tidak pernah dialaminya sendiri. la mempunyai perhatian besar terhadap perwira-perwira-muda yang berbakat. Diantara perwira muda yang dekat dengannya ialah Ahmad Yani. Ia melihat perwira muda ini memiliki kemampuan yang dapat dipercaya untuk memikul tanggungjawab pimpinan Angkatan Darat. Karena itu perwira ini dibinanya.

Selama menjabat Wakil KSAD ia telah mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat, Uni Sovyet, Yugoslavia, Mesir, RRC dan beberapa negara di Asia. Kunjungan itu dilakukan untuk mendapatkan bahan perbandingan dalam rangka membina Angkatan Darat. Dalam kunjungannya itu ia selalu menarik perhatian karena pribadinya yang khas. Seorang perwira Amerika Serikat pernah membandingkan Gatot dengan Jenderal Patton, seorang Jenderal Amerika Serikat dalam Perang Dunia II yang menjalankan tugasnya dengan cara-cara yang wajar dan praktis, tetapi dapat menimbulkan inspirasi yang hampir fanatik terhadap bawahan.

C.        DIANUGERAHI GELAR PAHLAWAN NASIONAL 18 JUNI 1962

 Ketika masa jabatan sebagai wakil KSAD hampir habis, pemerintah merencanakan untuk menyediakan kursi jabatan Penasehat Militer Presiden. Akan tetapi manusia boleh berencana hanya Tuhan yang menentukan. Pada tanggal 11 Juni 1962 Letnan Jenderal Gatot Subroto meninggal dunia setelah menderita serangan penyakit jantung. Sebagai tempat peristirahatan terakhir, sesuai dengan pesannya, ia dimakamkan di Ungaran. Ia memiliki bintang jasa sebanyak tujuhbelas. Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah menaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Anumerta. Penghargaan tertinggi diberikan Pemerintah berupa gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 18 Juni 1962.

Subdisjianhubmas Dislissaji

Jl. Gatot Subroto Kav. 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *